Update Data Kasus Covid-19 Indonesia: Positif Lebihi Angka 3 Juta

Update Data Kasus Covid-19 Indonesia: Positif Lebihi Angka 3 Juta

CB Blogger
CB Blogger

Update Jumlah Kasus Corona

Update Data Kasus Covid-19 Indonesia

Jumlah kasus positif COVID-19 bertambah 16.744 pada Sabtu (21/8/2021). Total kasus mencapai 3.967.048, sembuh 3.522.048, dan meninggal 125.342 orang.

Data Sebelumnya

Data perkembangan kasus positif pandemi COVID-19 Indonesia hingga Senin (5/7/2021):

Positif 2.313.829 (+29.745)
Sembuh 1.942.690 (+14.416)
Meninggal 61.140 (+558)
Kasus Aktif: 309.999

Data Sebelumnya

Data Kasus Covid-19 di Indonesia hingga 26 Juni 2021 dari Kementerian Kesehatan, jumlah kasus corona mencapai 2.093.995 orang.

Angka ini didapat karena penambahan kasus corona harian dalam 24 jam tercatat sebanyak 21.095 orang, tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Selanjutnya, untuk pasien Covid-19 atau kasus corona yang dinyatakan sembuh dari pandemi mengalami pertambahan sebanyak 7.396 orang.

Akumulasi kasus corona atau pasien Covid-19 sembuh untuk hari ini mencapai sebanyak 1.842.457 orang.

Pasien Covid-19 atau kasus corona meninggal dunia pada sore hari ini bertambah hingga 358 orang.

Kini, total keseluruhan kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia menjadi 56.729 orang.

Corona Varian Delta Bisa Menular Hanya dengan Berpapasan


Virus Corona varian Delta menjadi sorotan dunia karena dianggap sangat mudah menular. Bahkan varian ini disebut bisa menular hanya dengan berpapasan.

Hasil tracing di Australia pada kasus yang terjadi di salah satu pusat perbelanjaan South Wales, menunjukkan betapa cepatnya penularan varian Delta. Hal ini kemudian ditanggapi oleh Ketua Satgas IDI Prof Zubairi Djoerban yang menyebut transmisi cepat varian Delta bukan candaan semata.

Dalam cuitannya di akun Twitter pribadi miliknya, Prof Zubairi mengatakan kecepatan transmisi varian Delta sudah menjadi perhatian khusus para ahli, terutama kejadiannya tak hanya terjadi sekali di Australia.

"Makanya pejabat kesehatan Australia mengingatkan bahwa penularan virus tidak lagi butuh waktu hingga 15 menit, tapi dimungkinkan bisa dalam hitungan detik," tulisnya.

Hal itu yang menjadi konsern para ahli, apalagi kejadiannya tidak terjadi sekali saja di sana.

Makanya pejabat kesehatan Australia mengingatkan bahwa penularan virus tidak lagi butuh waktu hingga 15 menit, tapi dimungkinkan bisa dalam hitungan detik.— Zubairi Djoerban (@ProfesorZubairi) June 25, 2021

Ahli virologi Universitas Griffith, Lara Herrero, mengatakan dalam momen transmisi yang terekam di CCTV, virus didapati bisa bertahan di udara cukup lama sehingga seseorang bisa menghirupnya dan kemudian terinfeksi.

Transmisi kontak sekilas juga didukung pernyataan beberapa ahli temasuk ahli epidemiologi dunia Eric Feighl-Ding.

"Secara global, varian Delta memang menyebabkan lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kabar baiknya, sebagian besar vaksin yang beredar masih bisa bekerja melawan varian Delta ini," pungkas Prof Zubairi. (Detik)

Tidak Percaya Corona

Dilansir BBC, sebagian kecil masyarakat Indonesia "menolak menaati protokol kesehatan karena terpapar berita menyesatkan, namun sebagian lainnya bersikap apatis lantaran tidak mendapat keteladanan dari pejabat pemerintah" terkait penanganan Covid-19, kata pengamat.

Ahli penyakit menular dari Universitas Airlangga Surabaya, Windhu Purnomo, mengatakan sebagian masyarakat mempercayai informasi Covid-19 yang disampaikan pemerintah jika narasi para pejabat publik tidak saling bertentangan.

Dia mencontohkan kebijakan pemerintah tentang larangan mudik Lebaran, namun di sisi tidak melarang kunjungan ke lokasi wisata.

Pengamat kebijakan kesehatan dari Universitas Indonesia, Hermawan Saputra, menganggap selain kejenuhan, apatisme itu dilatari pula aspek keteladanan.

"Masyarakat tidak bisa kita salahkan. Kejenuhan pasti ada, tetapi keteladanan kebijakan, penegakan hukum itu juga dilihat sebagai faktor pengabaian dan apatisme, karena sudah 15 bulan berlalu," ujarnya, Rabu malam.

Di sisi lain, Windhu dan Hermawan tidak memungkiri bahwa ada sebagian kecil masyarakat di Indonesia yang sejak awal tidak memahami dan termakan oleh hoaks.

Seorang pejabat Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pernah menyatakan masih ada sekitar 17% masyarakat Indonesia yang tidak percaya adanya wabah Covid-19.

Karena itulah, mereka membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk tokoh masyarakat, agar bekerja lebih keras lagi, terutama untuk memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat.

Penjelasan WHO tentang Covid-19


Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.

Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

CARA PENYEBARAN VIRUS INI

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Anda dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika Anda berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Anda juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda.

Masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit.

Gejala yang paling umum:
  • demam
  • batuk kering
  • kelelahan

Gejala yang sedikit tidak umum:
  • rasa tidak nyaman dan nyeri
  • nyeri tenggorokan
  • diare
  • konjungtivitis (mata merah)
  • sakit kepala
  • hilangnya indera perasa atau penciuman
  • ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki.

Sumber: WHO

No comments:

Post a Comment